Artikel
Seberapa Penting PMT Bagi Bumil, Baduta dan Balita
PKK Desa Dukuh telah salurkan PMT bagi bumil, baduta dan balita risiko stunting pada Jumat, 12 Juli 2024 di aula Desa Dukuh Kecamatan Ibun dengan mengambil sasaran ibu hamil resti, ibu hamil KEK, baduta dan balita.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada Balita dan ibu hamil. Kegiatan PMT tersebut perlu disertai dengan edukasi gizi dan kesehatan untuk perubahan perilaku misalnya dengan dukungan pemberian ASI, edukasi dan konseling pemberian makan, kebersihan serta sanitasi untuk keluarga.
PMT biasa diberikan rutin setiap bulan di posyandu.Pemberian Makanan Tambahan ini tidak dimaksudkan sebagai makanan pengganti namun dijadikan sebagai makanan tambahan setiap harinya untuk memenuhi gizi balita dan Ibu Hamil dalam bentuk kudapan yang aman dan bermutu.
PMT ada dua macam, yaitu PMT pemulihan dan PMT penyuluhan. Bantuan PMT ini diberikan kepada baduta, balita stunting, ibu hamil risti dan ibu menyusui. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ini berupa bahan makan protein hewani, protein nabati, buah-buahan dan biskuit.
Kegiatan pemberian PMT pemulihan dilaksanakan selama 90 hari dengan sasaran yaitu balita yang mengalami stunting. Bentuk PMT yang diberikan yaitu makanan olahan dan dari bahan pangan lokal, dioalh oleh kader kesehatan yang ada di wilayah.
Lalu, stunting itu apa sih?
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Jadi bisa disimpulkan penyebab utama stunting adalah malnutrisi dalam jangka panjang (kronis). Kekurangan asupan gizi ini bisa terjadi sejak bayi masih di dalam kandungan karena ibu tidak mencukupi kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Selain itu, anak yang kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi selama masa tumbuh kembangnya juga bisa mengalami stunting.
Gejala stunting sering tidak disadari, karena anak hanya diduga memiliki tubuh yang pendek. Meski demikian, gejala stunting umumnya bisa terlihat saat anak berusia 2 tahun.
Gejala yang menunjukkan anak mengalami stunting adalah:
- Tubuh anak lebih pendek dibandingkan standar tinggi badan anak seusianya
- Berat badan anak bisa lebih rendah untuk anak seusianya
- Pertumbuhan tulang terhambat
- Mudah sakit
- Gangguan belajar
- Gangguan tumbuh kembang
Bila menderita penyakit kronis, anak dengan stunting bisa mengalami sejumlah gejala berikut:
- Tidak aktif bermain Batuk kronis, demam, serta berkeringat pada malam hari
- Tubuh anak membiru ketika menangis (sianosis)
- Sering lemas
- Sesak napas
- Ujung jari berbentuk seperti tabuh (clubbing finger)
- Bayi tidak dapat menyusu dengan baik
Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting?
Stunting bisa dicegah dengan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risikonya.
Upaya yang bisa dilakukan antara lain:
- Memenuhi asupan gizi yang cukup sebelum merencanakan kehamilan dan selama kehamilan
- Mencukupi asupan gizi, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak pembuahan sel telur hingga anak berusia 2 tahun
- Memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan
- Memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap

